Latar belakang skripsi sering menjadi bagian paling awal yang dibaca dosen pembimbing, tetapi justru paling sering ditulis asal-asalan oleh mahasiswa. Bagian ini bukan sekadar formalitas pembuka Bab I; latar belakang adalah tempat Anda meyakinkan pembaca bahwa masalah yang Anda teliti benar-benar ada, penting, dan layak untuk diteliti. Satu paragraf awal yang kuat bisa menentukan kesan pembimbing terhadap keseluruhan skripsi Anda.
Artikel ini membahas cara menyusun latar belakang skripsi yang baik dan benar, lengkap dengan struktur, contoh, dan kesalahan yang sering terjadi. Anda bisa langsung mempraktikkannya, bukan sekadar membaca teori.
Mengapa Latar Belakang Menentukan Kualitas Skripsi Anda
Latar belakang adalah pintu masuk penilaian pembimbing dan penguji. Dari bagian inilah mereka menilai apakah Anda memahami masalah yang diteliti, seberapa dalam Anda membaca literatur, dan apakah penelitian Anda memang mengisi celah yang belum dijawab penelitian lain.
Skripsi dengan latar belakang yang kuat bahkan membuat pembimbing lebih percaya diri membimbing Anda, karena alur berpikir Anda sudah tertata sejak awal. Sebaliknya, latar belakang yang bertele-tele tanpa arah akan memunculkan pertanyaan klasik saat seminar proposal: "Masalahnya sebenarnya apa?"
Karena itulah latar belakang harus ditulis dengan cara yang hampir sama seperti menulis jawaban atas satu pertanyaan besar: mengapa penelitian ini perlu dilakukan? Jika bagian ini mampu menjawabnya secara logis, bagian lain Bab I akan jauh lebih mudah disusun.
Fungsi Latar Belakang: Bukan Sekadar Pembuka
Banyak mahasiswa menganggap latar belakang hanya berisi pengantar umum sebelum masuk ke rumusan masalah. Anggapan ini keliru. Secara akademik, latar belakang memiliki empat fungsi utama:
- Mengidentifikasi masalah — menjelaskan adanya kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dan kondisi nyata di lapangan.
- Menjustifikasi penelitian — menunjukkan bahwa masalah tersebut cukup signifikan untuk diteliti.
- Menghubungkan penelitian dengan kajian pustaka — memperlihatkan bahwa Anda memahami penelitian sebelumnya dan celah yang belum dijawab.
- Mengarahkan ke rumusan masalah — menjadi jembatan logis menuju pertanyaan penelitian yang Anda ajukan.
Keempat fungsi ini harus terlihat jelas meskipun tidak ditulis sebagai label. Jika salah satu fungsi hilang, pembaca akan merasakan ada yang ganjil: latar belakang terasa melompat-lompat, atau rumusan masalah muncul tanpa konteks yang memadai.
Struktur Latar Belakang yang Baik: Pola Piramida Terbalik
Struktur paling umum dan paling mudah dipahami adalah piramida terbalik: mulai dari konteks yang luas, kemudian menyempit ke masalah spesifik, lalu berakhir pada arah penelitian. Alur ini logis karena mengajak pembaca masuk pelan-pelan sebelum dihadapkan pada inti masalah.
Secara berurutan, latar belakang yang baik umumnya terdiri atas lima lapisan berikut.
1. Konteks Umum
Bagian pembuka ini menempatkan topik Anda dalam gambaran besar. Jika penelitian Anda tentang UMKM, misalnya, Anda bisa mulai dari peran UMKM dalam perekonomian nasional atau kebijakan pemerintah yang relevan.
Gunakan data atau fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan opini. Satu atau dua kalimat sudah cukup; konteks umum tidak perlu bertele-tele karena bukan inti dari latar belakang.
2. Kondisi Ideal versus Kondisi Nyata
Inilah jantung latar belakang. Anda membandingkan bagaimana seharusnya kondisi di lapangan (ideal) dengan apa yang sebenarnya terjadi (nyata). Perbedaan keduanya adalah masalah penelitian Anda.
Misalnya, idealnya penerapan sistem informasi akuntansi meningkatkan akurasi laporan keuangan, tetapi kenyataannya banyak UMKM di daerah tertentu masih mencatat keuangan secara manual sehingga laporannya sering tidak sesuai. Pertentangan inilah yang menjadi bahan bakar penelitian Anda.
3. Inti Masalah
Setelah kesenjangan terlihat, jelaskan inti masalahnya secara tegas. Hindari kalimat yang terlalu umum seperti "permasalahan ini sangat penting". Sebutkan siapa yang terkena dampak, di mana, dan bagaimana dampaknya terlihat.
4. Pentingnya Masalah Diteliti
Bagian ini menjawab pertanyaan "lalu kenapa?". Jelaskan apa konsekuensinya jika masalah dibiarkan, siapa yang akan diuntungkan jika penelitian selesai, dan pihak mana yang bisa memanfaatkan hasilnya.
5. Arah Penelitian
Penutup latar belakang mengantarkan pembaca ke rumusan masalah. Tuliskan secara ringkas bahwa berdasarkan uraian di atas, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengkaji topik tertentu. Jangan menyebutkan hasil atau hipotesis di sini.
Ciri Latar Belakang yang Dinilai Baik oleh Pembimbing
Setiap pembimbing punya selera berbeda, tetapi ada beberapa standar yang hampir selalu disepakati. Jika tulisan Anda memenuhi ciri-ciri berikut, peluang diterima dengan sedikit revisi jauh lebih besar.
- Alur logis dan sistematis — setiap paragraf berhubungan dengan paragraf sebelumnya, tidak ada lompatan topik.
- Berbasis data — klaim didukung fakta, angka, atau hasil penelitian terdahulu yang bisa ditelusuri.
- Fokus pada masalah, bukan sejarah topik — banyak mahasiswa menulis sejarah panjang yang tidak relevan dengan inti penelitian.
- Spesifik — menyebutkan objek, lokasi, dan konteks waktu yang jelas.
- Bahasa formal tetapi mudah dipahami — tidak berbelit-belit dan tidak mengulang kalimat yang sama.
- Panjang proporsional — umumnya 2 sampai 4 halaman, cukup untuk mengembangkan masalah tanpa menggelembung.
- Sitasi yang relevan dan mutakhir — merujuk sumber yang benar-benar dipakai, bukan sekadar memenuhi daftar pustaka.
Perlu digarisbawahi bahwa tidak ada rumusan baku soal panjang latar belakang. Yang lebih penting adalah setiap kalimat memiliki fungsi. Dua halaman yang padat jauh lebih baik daripada lima halaman yang berisi pengulangan.
Cara Menulis Latar Belakang Langkah demi Langkah
Menulis latar belakang langsung dari paragraf pertama hampir selalu berakhir dengan kebuntuan. Cara yang jauh lebih efektif adalah menyusunnya bertahap, dimulai dari kerangka sebelum menulis kalimat utuh.
- Tentukan masalah inti. Tuliskan dalam satu kalimat: apa masalah yang ingin diteliti, siapa yang mengalaminya, dan di mana. Jika belum bisa menulis satu kalimat, Anda belum siap menulis latar belakang.
- Kumpulkan data pendukung. Cari data sekunder dari jurnal, laporan resmi, atau artikel ilmiah yang menunjukkan kesenjangan antara kondisi ideal dan nyata. Simpan sumbernya dengan rapi untuk sitasi.
- Buat poin-poin alur. Susun lima lapisan struktur piramida terbalik sebagai daftar poin. Ini menjadi peta jalan sehingga tulisan tidak melebar.
- Kembangkan tiap poin menjadi paragraf. Mulai dari lapisan terluar menuju inti masalah. Jangan terlalu sempurna di draf pertama; fokus pada kelengkapan isi.
- Rapikan transisi antarparagraf. Pastikan kalimat terakhir satu paragraf mengarahkan pembaca ke paragraf berikutnya.
- Baca ulang dan periksa alur. Coba jawab: apakah seorang pembaca awam bisa menangkap masalah penelitian hanya dari latar belakang? Jika tidak, perbaiki.
- Minta koreksi dari teman atau dosen. Sudut pandang orang lain sering menangkap bagian yang membingungkan yang tidak Anda sadari.
Langkah kedua layak mendapat perhatian ekstra. Latar belakang yang tidak punya data akan terasa kosong dan diragukan pembimbing. Bahkan satu angka relevan saja sudah membuat argumen Anda jauh lebih meyakinkan daripada tiga paragraf deskripsi tanpa dasar.
Contoh Latar Belakang Skripsi yang Baik
Agar lebih konkret, berikut contoh latar belakang yang disusun mengikuti pola piramida terbalik. Bagian dalam tanda kurung siku adalah data atau nama yang perlu Anda sesuaikan dengan penelitian masing-masing.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Besarnya kontribusi tersebut membuat keberlanjutan UMKM menjadi perhatian pemerintah, salah satunya melalui program digitalisasi dan pemberian kredit usaha rakyat (KUR).
Namun, akses UMKM terhadap pembiayaan masih menghadapi kendala. Berdasarkan data [Dinas Koperasi Kabupaten X] tahun [tahun], baru [30] persen UMKM di wilayah tersebut yang tercatat memanfaatkan KUR. Di sisi lain, hasil wawancara awal dengan beberapa pelaku UMKM menunjukkan bahwa sebagian besar masih mengandalkan modal pribadi karena menganggap prosedur pengajuan KUR rumit dan memakan waktu.
Rendahnya pemanfaatan KUR ini berdampak langsung pada keterbatasan modal usaha, yang pada akhirnya menghambat peningkatan omzet dan penyerapan tenaga kerja. Jika kondisi ini tidak ditangani, target pemberdayaan UMKM di Kabupaten X sulit tercapai, padahal sektor tersebut menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan KUR, antara lain [Nama Peneliti] ([tahun]) dan [Nama Peneliti] ([tahun]). Namun, penelitian tersebut sebagian besar dilakukan pada konteks wilayah perkotaan, sementara karakteristik UMKM di daerah dengan dominasi sektor pertanian belum banyak dibahas. Atas dasar tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pelaku UMKM di Kabupaten X dalam memanfaatkan KUR.
Perhatikan alurnya: konteks nasional, kemudian kondisi nyata di daerah dengan data, lalu dampak masalah, kemudian celah penelitian, dan akhirnya arah penelitian. Tidak ada kalimat yang mengambang tanpa fungsi.
Contoh Latar Belakang yang Kurang Baik dan Perbaikannya
Memahami contoh yang baik saja belum cukup; melihat perbandingan dengan contoh yang buruk akan membuat Anda peka terhadap kesalahan. Berikut contoh latar belakang yang sering ditulis mahasiswa.
Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini membawa banyak perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak lepas dari teknologi. UMKM juga merasakan dampak perkembangan tersebut. UMKM adalah usaha yang dijalankan oleh masyarakat. Banyak UMKM di Indonesia yang belum memanfaatkan teknologi secara maksimal. Hal ini tentu saja menjadi permasalahan yang sangat penting. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang pemanfaatan teknologi informasi pada UMKM.
Ada beberapa persoalan mendasar dalam contoh di atas. Pembukaannya terlalu umum dan berisi klaim tanpa data, pernyataan "tentu saja menjadi permasalahan yang sangat penting" tidak didukung apa pun, dan kalimat terakhir terlalu dangkal karena tidak menjelaskan mengapa masalah itu layak diteliti dan di mana celah penelitiannya.
Versi perbaikannya adalah sebagai berikut.
Adopsi teknologi informasi pada sektor UMKM masih timpang antardaerah. Di Kabupaten X, baru [25] persen UMKM yang menggunakan aplikasi pencatatan digital, sementara rata-rata provinsi sudah mencapai [58] persen pada tahun [tahun] (Sumber: [nama laporan resmi]). Sebagian besar pelaku usaha masih mencatat transaksi secara manual, sehingga laporan keuangan sering terlambat dan tidak akurat.
Kondisi tersebut menyulitkan pelaku usaha dalam mengakses pembiayaan, karena lembaga keuangan membutuhkan laporan yang dapat dipertanggungjawabkan. Padahal peningkatan literasi digital menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji faktor-faktor yang menghambat adopsi teknologi pencatatan digital pada UMKM di Kabupaten X, yang belum banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya.
Perbedaannya jelas: versi perbaikan memakai data, menyebutkan dampak konkret, dan langsung menunjuk arah penelitian. Itulah standar yang diharapkan dosen.
Kesalahan Umum dalam Menulis Latar Belakang
Sebagian besar revisi latar belakang terjadi karena kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Berikut yang paling sering ditemui.
- Pembukaan yang terlalu generik. Kalimat seperti "perkembangan zaman semakin pesat" atau "teknologi semakin canggih" tidak membawa informasi apa pun. Mulailah langsung dari topik dan datanya.
- Menulis sejarah panjang yang tidak relevan. Jika penelitian Anda tentang pemasaran, tidak perlu menulis sejarah singkat berdirinya Indonesia atau evolusi ekonomi dunia.
- Klaim tanpa data. Menulis "sangat banyak UMKM yang gagal" tanpa angka akan dipertanyakan pembimbing. Setiap klaim kuat harus didukung data atau sumber.
- Rumusan masalah muncul tanpa konteks. Latar belakang harus sampai pada kesimpulan logis mengapa masalah itu layak diteliti, bukan berhenti mendadak.
- Menyalin latar belakang dari jurnal. Plagiarisme pada bagian ini paling mudah terdeteksi dan akan menjadi masalah serius jika terbawa sampai sidang.
- Menggunakan kata ganti orang pertama berlebihan. Ungkapan seperti "penulis tertarik" atau "menurut penulis" sebaiknya diminimalkan dan diganti dengan argumen yang kuat.
- Sitasi yang tidak sesuai daftar pustaka. Mencantumkan sumber di latar belakang tetapi tidak mencantumkannya di daftar pustaka (atau sebaliknya) adalah kesalahan administratif yang mengganggu penilaian.
- Bahasa bertele-tele. Satu kalimat panjang yang bisa dipecah menjadi dua akan lebih mudah dipahami pembaca.
Kesalahan terakhir yang paling berbahaya adalah menulis latar belakang tanpa menetapkan masalah lebih dulu. Banyak mahasiswa justru menulis latar belakang dulu, baru mencari masalah. Akibatnya, tulisan menjadi kumpulan informasi umum yang tidak mengarah ke mana-mana.
Checklist Sebelum Mengumpulkan Bab I
Sebelum menyerahkan Bab I ke pembimbing, lakukan pemeriksaan cepat berikut. Checklist ini bisa menyelamatkan Anda dari revisi berulang.
- Apakah paragraf pertama langsung membawa pembaca pada topik, tanpa pembukaan generik?
- Apakah kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata terlihat jelas?
- Apakah setiap klaim didukung data, fakta, atau sumber yang bisa ditelusuri?
- Apakah dampak masalah dijelaskan secara konkret dan menyebutkan pihak yang terkena dampak?
- Apakah latar belakang berakhir dengan arah penelitian yang mengarah ke rumusan masalah?
- Apakah sitasi di latar belakang semuanya tercantum di daftar pustaka?
- Apakah tidak ada kalimat yang mengulang informasi pada paragraf lain?
- Apakah latar belakang bisa dibaca dari awal sampai akhir tanpa kehilangan arah?
Jika ada satu jawaban "tidak", perbaiki sebelum mengumpulkan. Satu kali revisi yang menyeluruh jauh lebih hemat waktu daripada tiga kali revisi kecil yang berulang.
Kesimpulan
Latar belakang skripsi yang baik adalah latar belakang yang mampu menjawab satu pertanyaan: mengapa penelitian ini perlu dilakukan. Mulailah dari konteks luas, persempit ke kondisi nyata yang bermasalah, dukung dengan data, lalu akhiri dengan arah penelitian yang logis.
Jangan menulis latar belakang sekadar untuk memenuhi format. Tulis sebagaimana Anda meyakinkan pembimbing bahwa masalah ini nyata dan layak diteliti. Dengan struktur piramida terbalik, data yang kuat, dan pemeriksaan checklist sebelum mengumpulkan, bagian ini justru bisa menjadi salah satu bagian terkuat dalam skripsi Anda.
Terakhir, mintalah umpan balik dari orang lain sebelum mengumpulkan. Latar belakang yang terasa jelas di kepala Anda belum tentu jelas di mata pembaca.
Setelah memahami struktur dasar, beberapa hal lain justru sering menentukan apakah latar belakang Anda terlihat meyakinkan atau hanya terlihat seperti formalitas. Bagian lanjutan ini membahas contoh latar belakang untuk beberapa bidang studi, cara menyelaraskan latar belakang dengan bagian Bab I lain, serta strategi saat menghadapi revisi dari pembimbing.
Contoh Latar Belakang untuk Berbagai Bidang Studi
Pola piramida terbalik berlaku untuk semua bidang, tetapi bentuk datanya berbeda-beda. Bidang kesehatan mengandalkan data epidemiologi dan hasil studi klinis, bidang pendidikan menggunakan data capaian belajar dan kebijakan kurikulum, sementara bidang teknik berangkat dari parameter teknis dan standar yang berlaku.
Berikut beberapa contoh yang bisa dijadikan rujukan, dengan data dalam tanda kurung siku yang perlu Anda sesuaikan dengan penelitian masing-masing.
Contoh Latar Belakang Bidang Pendidikan
Hasil asesmen nasional menunjukkan bahwa literasi membaca peserta didik di Indonesia masih berada di bawah target. Di [Nama Sekolah], nilai rata-rata literasi siswa kelas [X] pada tahun ajaran [tahun] tercatat [60], masih di bawah kriteria ketuntasan minimal sebesar [75]. Pengamatan awal menunjukkan bahwa siswa cenderung pasif saat pembelajaran membaca dan lebih banyak menghafal daripada memahami isi teks.
Rendahnya kemampuan literasi ini berdampak pada hasil belajar siswa di mata pelajaran lain, karena sebagian besar materi disajikan dalam bentuk teks tertulis. Penelitian terdahulu banyak membahas penerapan model pembelajaran berbasis proyek, namun belum banyak yang mengkaji kombinasi model tersebut dengan media digital pada jenjang sekolah menengah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan media digital terhadap kemampuan literasi membaca siswa.
Perhatikan bahwa contoh ini menghubungkan masalah dengan dampak pada mata pelajaran lain. Langkah itu memperkuat alasan mengapa penelitian penting, tidak hanya untuk satu mata pelajaran saja.
Contoh Latar Belakang Bidang Kesehatan
Kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah masih menjadi tantangan dalam upaya menurunkan angka anemia. Di Puskesmas [Nama], cakupan ibu hamil yang meminum tablet zat besi minimal [90] butir tercatat [55] persen pada tahun [tahun], di bawah target nasional sebesar [85] persen. Wawancara awal dengan bidan setempat menunjukkan bahwa keluhan mual dan kurangnya pengetahuan menjadi alasan utama ketidakpatuhan.
Anemia pada ibu hamil meningkatkan risiko berat badan lahir rendah dan komplikasi persalinan. Berbagai intervensi edukasi gizi telah dilakukan, namun efektivitasnya pada kelompok ibu hamil di wilayah pesisir belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas edukasi gizi berbasis media sosial terhadap kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil.
Contoh Latar Belakang Bidang Teknik
Jalan kabupaten di wilayah [Nama] mengalami kerusakan lebih cepat dari umur rencana. Perkerasan yang seharusnya bertahan [10] tahun menunjukkan retak dan lubang setelah [5] tahun beroperasi. Kondisi ini diperkirakan terkait dengan beban kendaraan yang melampaui kelas jalan dan sistem drainase yang kurang memadai.
Kerusakan tersebut meningkatkan biaya pemeliharaan rutin dan menurunkan tingkat pelayanan jalan. Studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada perencanaan perkerasan baru, sementara analisis penyebab kerusakan dini pada jalan dengan volume kendaraan tinggi masih terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor dominan penyebab kerusakan jalan di wilayah tersebut sebagai dasar perencanaan perbaikan.
Ketiga contoh di atas menunjukkan satu pola yang sama: masalah selalu dikaitkan dengan data, dampak, dan celah penelitian. Bidangnya berbeda, tetapi kerangka berpikirnya identik.
Menyelaraskan Latar Belakang dengan Bagian Bab I Lainnya
Kesalahan yang sering tidak disadari mahasiswa adalah menulis latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian secara terpisah-pisah sehingga isinya tidak nyambung. Padahal keempat bagian ini harus saling terkait seperti satu alur yang berkesinambungan.
Uji yang bisa Anda lakukan adalah menelusuri setiap kalimat rumusan masalah, lalu mencari dukungannya di latar belakang. Jika rumusan masalah menyebutkan faktor pemanfaatan KUR, latar belakang harus sudah menunjukkan bahwa persoalan pemanfaatan KUR memang nyata. Jika tidak, pembaca akan bingung dari mana pertanyaan penelitian itu muncul.
Begitu juga dengan tujuan penelitian. Tujuan hampir selalu merupakan parafrase dari rumusan masalah, dan manfaat penelitian harus diturunkan dari dampak yang sudah Anda uraikan di latar belakang. Konsistensi semacam ini yang sering membuat penguji bertanya, "Masalah, tujuan, dan manfaatnya kok tidak sinkron?"
Beberapa dosen juga membaca latar belakang bersama dengan kajian pustaka. Jika di latar belakang Anda menyebut penelitian [Nama Peneliti] sebagai rujukan, pembahasan atas penelitian tersebut sebaiknya muncul juga di kajian pustaka. Menjaga ketersambungan ini sejak awal akan mempermudah proses menulis bagian-bagian berikutnya.
Strategi Menghadapi Revisi Latar Belakang
Revisi latar belakang bukan berarti tulisan Anda jelek. Sebagian besar revisi hanyalah permintaan untuk memperjelas alur atau memperkuat data, dan ini adalah hal yang wajar dalam proses akademik.
Ketika pembimbing mengembalikan Bab I dengan banyak coretan, jangan langsung menulis ulang dari awal. Baca seluruh komentar, kategorikan menjadi tiga jenis: komentar soal data, soal alur, dan soal bahasa. Tangani satu per satu sesuai prioritas, karena data yang lemah tidak akan tertolong oleh bahasa yang indah.
Jika pembimbing memberikan pertanyaan seperti "masalahnya apa?", itu pertanda inti masalah belum tertangkap oleh pembaca. Periksa kembali bagian kesenjangan ideal versus nyata; kemungkinan besar bagian tersebut terlalu tersamar atau justru tidak ada. Jika pertanyaannya "dari mana datanya?", Anda perlu menambahkan sumber yang bisa diverifikasi.
Jangan ragu untuk menanyakan langsung kepada pembimbing contoh latar belakang dari mahasiswa yang pernah dibimbingnya, jika memang ada yang bisa dibagikan. Standar setiap kampus dan setiap dosen bisa berbeda, dan memahami standar tersebut sejak awal jauh lebih efisien daripada menebak-nebak sendiri.
Menghindari Kesan Latar Belakang yang Ditulis Instan
Dosen yang berpengalaman bisa menebak latar belakang yang ditulis dalam satu malam. Cirinya hampir selalu sama: paragraf mengambang, data minim, dan kalimat disusun demi memperpanjang halaman alih-alih memperjelas masalah.
Cara terbaik menghindari kesan tersebut adalah menulis latar belakang sebagai proses, bukan sekali duduk. Selesaikan draf kasar lebih dulu, lalu beri jeda sehari sebelum merevisi. Saat kembali membacanya, Anda akan melihat bagian yang sebenarnya bisa dipangkas dan bagian yang butuh data tambahan.
Membaca ulang dengan suara keras juga efektif untuk menemukan kalimat yang janggal. Kalimat yang sulit diucapkan biasanya juga sulit dipahami pembaca. Perbaiki dengan memecah kalimat panjang menjadi dua atau tiga kalimat pendek.
Yang tidak kalah penting, hindari godaan menyalin struktur kalimat dari jurnal atau skripsi orang lain. Gunakan referensi untuk mencari data dan celah penelitian, tetapi tulis penjelasannya dengan bahasa Anda sendiri. Latar belakang yang ditulis dengan bahasa sendiri akan terasa jauh lebih meyakinkan dan lebih mudah dipertahankan saat sidang.
Kesimpulan Akhir
Latar belakang yang baik bukan ditentukan oleh panjangnya, melainkan oleh kejelasan masalah dan kekuatan argumen. Dengan pola piramida terbalik, dukungan data, serta konsistensi dengan rumusan masalah, tujuan, dan manfaat, latar belakang Anda akan menjadi fondasi yang kokoh bagi seluruh skripsi.
Setelah latar belakang selesai dan disetujui, alur penulisan rumusan masalah dan kajian pustaka biasanya terasa jauh lebih mudah karena arahnya sudah jelas. Mulailah dari bagian ini, dan jadikan latar belakang sebagai investasi awal yang membuat proses berikutnya berjalan lancar.